"Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah." Begitu ucap Presiden Indonesia, Joko "Jokowi" Widodo, sesaat setelah Eko Yuli Irawan meraih medali emas Asian Games 2018, Selasa (21/8/2018) sore di Hall A JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.
Turun dalam kelas 62 kg pria cabang olahraga (cabor) angkat besi, lifter kelahiran Lampung 29 tahun silam itu menang dengan skor terpaut cukup jauh dari peringkat kedua dan ketiga.
Eko berhasil mengumpulkan total skor angkatan 311 (141 kg snatch dan 170 kg clean and jerk). Sedangkan di peringkat dua, Trinh van Vinh (Vietnam) hanya mampu membuat skor 299 (133 kg snatch dan 166 kg clean and jerk), dan peringkat ketiga Ergashev Adkhamjon (Uzbekistan) dengan total skor 298 (136 kg snatch dan 162 kg clean and jerk).
"Saya kira sejak awal Eko memang sudah percaya diri. Jadi, kalau dapat emas, ini memang sudah diprediksi. Dengan ini, kita sudah mendapatkan lima mendali emas," tutur Jokowi kepada pewarta berita.
Sebenarnya, prestasi Eko bukan sekadar mendapat emas saja. Eko membuat sejarah bagi angkat besi Indonesia. Ini adalah kali pertama cabang angkat besi Indonesia berhasil meraih medali emas di ajang Asian Games.
Sebelumnya, Indonesia "hanya" mampu mengoleksi tujuh perak dan 13 perunggu sepanjang mengikuti pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Dan bagi Eko, ini adalah penantian panjangnya sejak delapan tahun lalu.
Pada Asian Games 2010 di Guangzhou (Tiongkok) dan 2014 Incheon (Korea Selatan), dia hanya berhasil meraih perunggu. Sedangkan dalam Olimpiade, dua kali perunggu (2008 dan 2012) serta sekali perak (2016).
"Tentu senang sekali. Ini kemenangan Indonesia," kata Eko dalam acara jumpa pers.
Sejak pertandingan dimulai, Eko memang tampak percaya diri. Saat melakukan angkatan snatch, Eko langsung meminta berat 135 kg meski atlet lain hanya meminta berat awal maksimal 130 kg,
Demikian pula pada angkatanclean and jerk. Atlet lain rata-rata di bawah 160 kg, Eko justru menaikkan dari 160 kg menjadi 165 kg.
Hasilnya, pada semua permintaan itu, Eko mulus mengangkat beban. "Itu strategi kami memang. Kita ingin unggul jauh dulu dari lawan pada awal-awal," kata Eko menjelaskan pilihannya selalu menaikkan jumlah beban pada awal.
Strategi tersebut terhitung jitu. Unggul di angkatan snatch, beberapa lawannya pun terlihat panik--misalnya Van Vinh. Atlet Vietnam itu berusaha mengejar ketertinggalannya pada percobaan ketiga clean and jerk.
Pada perocbaan kedua, ia mampu mengangkat beban 166 Kg. Namun, sadar Eko sudah unggul setelah berhasil mengangkat total 311 kg, Van Vinh pun menaikkan beban pada upaya ketiga menjadi 179 kg. Hasilnya, Van Vinh gagal.
"Kita selalu menghitung di belakang. Saat kita minta 170 kg (clean and jerk), Vietnam setidaknya harus 180 kg. Dan itu sulit sekali. Jadi strategi kita memang emas dulu, baru kalau ada kesempatan memecahkan rekor," ucap pelatih Eko, Dirdja Wihardja.
Total angkatan tersebut tentu bukan pencapaian terbaik Eko. Sejauh ini, lelaki murah senyum itu pernah mengangkat hingga total 317 kg saat meraih medali perunggu dalam Olimpiade 2012 di London, Inggris.
Pencapaian Eko ini menambah pundi-pundi medali emas untuk kontingen Indonesia, menjadi lima. Pada hari ketiga, perolehan medali tak hanya ditambah oleh cabor angkat besi saja.
Pada cabor wushu, Achmad Hulaefi berhasil meraih medali perunggu dari nomor daoshu & gunshu all round. Hulaefi hanya mampu mengumpulkan total poin 9,71 atau terpaut 0,4 dari peraih emas Wu Zhaohua (Tiongkok) dan 0,2 dari Cho Seungjae (Korea Selatan).
Medali perunggu juga dipersembahkan cabor bulu tangkis tim putri Indonesia dan sepaktakraw putra. Dengan hasil ini, hingga per Selasa (21/8) pukul 18.00, Indonesia telah mengumpulkan 5 emas, 2 perak, dan 5 perunggu. Kini, Indonesia nangkring di posisi empat klasemen sementara.
Artikel Asli
Post a Comment
Post a Comment