foto: liputan6/@Dian Kurniawan
Dinda mengaku, dirinya kerap bertemu bapak kandungnya saat menjajan gorengan di Pasar Magetan. Namun Dinda memilih tidak menyapa. Pun dengan si bapak, juga tidak menyapa saat melihat dirinya.
"Ya kalau ketemu sih ketemu saja. Tetapi cuma saling lihat saja. Setelahnya ya tidak menyapa," katanya.
Hasil berjualan gorengan, kata Dinda, bisa membiayai sekolah dan kehidupan sehari-harinya bersama nenek. Dia mengaku setiap harinya mengumpulkan uang Rp80 ribu sampai Rp100 ribu.
"Kalau ramai ya terjual semua bisa mencapai Rp100 ribu. Karena gorengan yang saya bawa ada 100 jumlahnya. Jualnya kan Rp 1 ribu. Jika habis ya dapat Rp 100 ribu," tambahnya. Uang sebanyak itu, lanjut dia, hasil berjualan mulai pukul 13.00 sampai 17.00.
Menurutnya, jika jualannya habis langsung kembali ke rumahnya. "Tapi jika belum habis ya dihabiskan dulu. Kalau jam 5 sore sudah tidak ada yang beli saya baru pulang," katanya.
Dinda mempunyai alasan sendiri harus sudah kembali pada pukul 17.00. Dia berpedoman, walaupun berjualan gorengan, harus tetap meluangkan waktu belajar. Dia mengatakan, biasanya meluangkan waktu belajar setelah maghrib.
"Ya harus tetap belajar. Habis jualan, mandi dan lanjut belajar. Mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru saya. Terus belajar buat besok harinya," tambahnya.
Jadi tak heran, walaupun berjalan gorengan, Dinda selalu masuk 3 besar. Sayang, untuk penilaian terakhir kelas 4 semester Ganjil ini Dinda belum mengetahuinya. Pasalnya, ada yang belum dibayarkan oleh Dinda.
Post a Comment
Post a Comment