Kisah Inspiratif Pak Gatot, Penjual Es Goreng bisa kuliahkan 3 anaknya hingga S2



foto: Brilio.net/Faris Faizul Aziz
"Bapak Haka Astana (pensiunan Asisten SDM Kapolri) memberikan penghargaan kepada saya, kaitannya dengan es goreng, karena saya jualan di sini sembari saya waktu Kamtimpas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), di sini (Alun-alun Kidul Yogyakarta) itu kan jalannya ramai. Saya sering menyampaikan kepada pengunjung terima kasih dengan hormat atas kehadiran anda diucapkan terima kasih, saya ucapkan selamat jalan dan terima kasih atas perhatiannya para pengunjung, para pengguna roda empat, roda dua, telah memperhatikan keselamatan dari pada kecepatan, semoga selamat sampai di tempat tujuan, itu saya sampaikan seperti itu, tapi nggak tau di belakang saya itu ada Wakapolda, siapa itu orang dari Bandung waktu itu," ungkap Pak Gatot.
Selain itu, Pak Gatot juga menggunakan pakaian formal berupa kemeja dan dasi saat berjualan. Inisiatif Pak Gatot menggunakan pakaian yang tak umum adalah ingin memuliakan pelanggan.
"Supaya kita ada pengaruh, biar pembeli menghargai saya, saya menghargai pembeli," kata Pak Gatot.


foto: Brilio.net/Faris Faizul Aziz
Bertahun-tahun menjalani bisnis es goreng membuat Pak Gatot dikenal banyak orang. Banyak yang mencoba meniru membuat es goreng serupa, namun nasibnya tak semujur es goreng milik Pak Gatot. Seringkali ia didatangi orang untuk meminta resep khasnya, namun ia tetap konsisten untuk merahasiakan resep menu 'es tempo doeloe' itu.
Ia pun mengaku tak terlalu banyak mengambil keuntungan dari penjualan esnya. Satu potong es goreng dijual Rp 3.000 dan dua potongnya Rp 5.000. Ia bisa saja menaikkan harga, namun ia berusaha konsisten dengan harga tersebut agar terjangkau pelanggan.
Kerja Pak Gatot selama puluhan tahun pun membuahkan hasil. Keluarga Pak Gatot yang dulunya tinggal di rumah berdinding bambu disulap menjadi hunian dua lantai.

Related Posts

Post a Comment

Loading...
Subscribe Our Newsletter